GPAI SD Kabupaten Lamongan

Articles by "ARTIKEL"



Rekoso: Cara Pandang atau Jalan Hidup?


Jaman cilik mbiyen aku rekoso mas, jebul wis tuwo yo iseh tetep rekoso
Kalau kamu pernah lewat perempatan kentungan di Jalan Kalurang, Yogyakarta, sedikit di sebelah selatan pom bensin ada gerobak kecil yang menyajikan masakan padang di trotoar. Buka mulai pukul 9 pagi sampai 12 siang. Pedagangnya adalah seorang manantan chief kapal pesiar yang memilih keluar untuk buka usaha sendiri. Ia berumur 50-an. Kalau beli makanannya, tentu saja kamu boleh mengklaim ‘beli masakan ala chief kapal pesiar’.

Beberapa hari lalu, saya mendatangi warungnya untuk beli masakan mantan chief itu. Pukul 9 lewat sedikit saya tiba. Sampai sana, pedagangnya sedang memasang tenda dan menata kursi untuk para pembeli. “Kok telat pak?” tanyaku. “iya mas, kesiangan tadi, badan rasanya capek”, jawabnya. Saya diam saja sejenak sambil melihat jalanan di sekitar. Tiba-tiba ia membuka obrolan.
“Rekoso mas nyepakke dodolan iki, mbiyen jaman cilik aku wis biasa urip rekoso, eh tuwone yo tetep rekoso mas” (rekoso mas menyiapkan jualan ini, dulu jaman kecil saya sudah biasa rekoso, eh sekarang tetap rekoso). Aku tak mengerti harus bilang apa kecuali merespon enteng, “justru nikmate urip iku ning rekosone sih pak” (justru nikmatnya hidup itu pada rekoso-nya sih pak). Tak tau apa yg dipikirkan bapak itu, yang jelas ia membalas dengan tersenyum.

Aku melihat kenyataan ini berbanding terbalik dengan ungkapan; jika kita bekerja keras sewaktu muda, ketika dewasa nanti tinggal menikmati hasilnya. Terdengar menjanjikan memang, tapi ternyata tak semua orang merasakan demikian, setidaknya oleh mantan chief itu.
Sekalipun kerja keras telah kita jalani sejak usia muda, tak selalu angan-angan untuk bersenang-senang tercapai di hari tua. Jika sedikit mengambil sudut pandang religius seperti yang pernah ditulis Weber dalam ‘The Protestant Ethic’, kerja keras semata-mata dilakukan dengan tujuan yang jelas, yaitu pengabdian Ilahi! sederhananya, bekerja adalah ibadah!
Dalam istilah jawa, kita mengenal ‘urip rekoso’. Artinya sebenarnya tidak sepadan  jika disamakan dengan kerja keras ala Weberian, karena rekoso lebih dekat kesannya dengan kerja ekstra keras dengan hasil jauh di bawah harapan, bahkan boleh dibilang susah payah namun minim hasil. Rekoso seperti yang diucapkan pedagang itu mungkin demikian. Ia bekerja susah payah, namun ya tetap ‘capek’ sampai sekarang.

Barangkali itu lebih menandakan sebagai jalan hidup yang [terpaksa] harus dijalani. Seperti yang kita pahami, boleh saja kita melihat kehidupan ini berjalan semata-mata sebagai sebuah pertukaran. Siapa yang menanam akan memanen, siapa yang menebar kebaikan akan memperoleh hasil baiknya. Tentunya siapa bekerja keras akan menikmati hasilnya. Tapi, siapa rekoso [mungkin] akan tetap rekoso.
Yogyakarta, 5 Maret 2014 sosiologis.com
SUMBER : klik disini  


Dengan mengucap Alhamdulillah atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita, salah satu nikmat yang diberikan yaitu nikmat kesehatan dan rejeki melalui TPP Tribulan ke-2 Tahun 2017 yang pada siang hari ini tanggal 20 Juli 2017 telah masuk ke rekening GPAI Kabupaten Lamongan,




Yang kedua rasa terimakasih kami haturkan juga kepada Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lamongan khususnya Bpk KH. Masduki Yasin selaku Kasi PAI Kantor Kemenag Kab. Lamongan, serta kepada Bapak/Ibu Staf PAI Kantor Kemenag Kab, Lamongan, semua ini karena kerja keras dan dan perjuangan beliau demi GPAI Kabupaten Lamongan, semoga senantiasa diberikan kesehatan dan rejeki barokah yang melimpah Aamiin YRA






Tentunya kami ucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada Pengurus harian KKG PAI Kabupaten Lamongan, atas segala perjuangan dan keikhlasan dan ketulusan dalam memperjuangkan teman teman GPAI Lamongan, serta kesediaan waktu ditengah tengah kesibukan tugas dan kesibukan rumah tangga, semoga semua dibalas oleh Allah sebagai sebuah catatan amal baik, Aamiin ya robbal aalamiin,



Dan tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada teman teman Koordinator OPS KKG Kabupaten Lamongan, terutama Bpk Slamet Riyadi selaku ketua OPS KKG Kabupaten Lamongan, semoga teman teman ops selalu diberikan kesehatan agar senantiasa selalu berjuang untuk teman teman GPAI Kabupaten Lamongan.





Dan juga terimakasih disampaikan kepada teman teman komunitas WA KKG PAI Kab.Lamongan, alhamdulillah sudah 2 tahun kita bersua di dunia maya melalui silaturahim secara online, tak terasa hampir dua tahun, banyak kisah yang terjadi baik itu kisah romantis, sadis, kisah tentang sebuah perasaan yang mungkin sangat sulit kita jabarkan bersama, sebuah kisah yang mungkin ada kesenangan, kesedihan, ketidak cocokan, konflik, bercanda, serius, tentunya informasi dinas yang berkaitan dengan KKG dan bahkan sisi religius yang dikemas dalam Khataman Al Qur'an yang sudah berjalan hampir 56 putaran, sesuatu yang luar biasa dan harus kita apresiasi, terutama pada Ibu Nyai Lailatus Shiyamah yang dengan istiqomah "ngopeni" Al Qur'an, ngopeni khotmil qur'an bersama para admin. semuanya tersaji dengan sangat lengkap , banyak hal yang sudah kita lalui bersama dalam sebuah cerita yang kita kemas dalam wadah grup WA (Whats App) KKG PAI Kab. Lamongan, dan tentunya kita patut bersyukur karena sudah 2 tahun ini kita melaksanakan halal bihalal di desa glagah, untuk tahun depan semoga bisa terlaksana di rumah teman teman yang lain, saya berharap semoga kekompakan kita selalu terjaga dan senantiasa mendapat petunjuk dari Allah SWT.


Juga kepada teman teman Pejuang akhlaq anak didik, seluruh GPAI Kab. Lamongan, dengan TPP ini kita tingkatkan etos kerja kita, kita tingkatkan kinerja kita,  agar TPP yang kita dapat menjadi lebih barokah dan diridhoi oleh Allah SWT, Aamiin , dan kita senantiasa berdoa semoga TPP yang terhutang tidak ada kendala dan bisa dicairkan pada tahun ini setelah pencairan TPP Tribulan II, tentunya doa Bapak/Ibu GPAI sangat kita harapkan ada agar senantiasa diberikan kelancaran tanpa halangan suatu apa pun.




Terakhir bagi Bapak/Ibu. yang membaca artikel ini, kami mohon keikhlasan untuk membacakan surat Al Fatihah, kita tujukan kepada ananda CINTA dari SDN Glagah I Kab. Lamongan,  yang akan mewakili Jawa Timur Lomba MTQ di tingkat Nasional dalam event Pentas PAI yang akan di selenggarakan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, semoga ananda cinta diberikan Juara I tingkat Nasional, tentunya menjadi sebuah kebanggan bagi KKG PAI Lamongan, Ala hadiniyah wa kulli niatin sholihah bisirril fatihah.

A.R. A

SESUNGGUHNYA, agama memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama tidak hanya memberikan petunjuk bagaimana manusia harus berhubungan dengan Tuhan melalui ritual-ritual keagamaan yang bersifat mahdlah. Lebih dari itu, ia diturunkan kepada umat manusia untuk mengatur segala sesuatu yang menyangkut peri kehidupan di dunia dengan segala aktifitasnya. Tentang bagaimana manusia harus bersikap terhadap dirinya sendiri, tata cara bergaul dengan sesama, bagaimana mestinya memberlakukan alam semesta, dan lain sebagainya. Tujuan akhir dari semua itu tak lain keselamatan dan kebahagian manusia itu sendiri. Dengan kata lain, ketika suatu hari nanti kehidupan dunia ini harus berakhir, manusia tetap berada pada jalan yang dikehendakiNya, bukan jalan menyimpang yang sama sekali berada di luar arah dan petunjukNya.

Namun disadari atau tidak, pemahaman tentang makna agama itu mengalami pergeseran sedemikian rupa di benak sebagian orang pada kurun waktu terakhir. Ketika kata agama didengungkan, barangkali yang muncul di alam bawah sadar adalah segala sesuatu yang sejatinya bukan agama, tapi merupakan simbol dari agama itu sendiri. Orang melakukan shalat, haji, kegiatan-kegitan di majelis taklim, dan kegiatan-kegiatan bersifat “akherat” lainnya. Agama pada akhirnya dikotakkan hanya pada tempat-tempat tertentu, dan tidak berlaku di tempat-tempat lain. Hal itu dapat kita lihat, umpamanya dalam tayangan sinetron-sinetron “islam” di layar televisi. Bagaimana agama didefinisikan secara dangkal dengan mengedepankan simbol-simbol dan mengesampingkan inti dari agama. Padahal, ketika ada seorang petani yang dengan tekun mengerjakan sawahnya, ketika ada tukang becak dengan gigih berkeringat mengayuh becak demi menafkahi anak istrinya. Bukankah ia sama sekali tak berjauhan dengan agama?

Pada titik inilah, pemberian mata pelajaran agama di sekolah-sekolah formal menemukan tantangannya. Sebab diakui atau tidak, pendidikan agama –dan juga pendidikan-pendidikan normatif lainnya- ketika diformulasikan dalam sebuah kurikulum yang wajib diterapkan di lembaga pendidikan formal, yang kerap terjadi adalah tidak sampainya ruh pendidikan itu dalam perilaku siswanya. Artinya, pendidikan agama pada siswa belum sampai pada tahap bagaimana beragama dengan benar. Yang terjadi adalah siswa belajar tentang agama, dan tak ada jaminan jika pengetahuan tentang agama itu akan menjadi spirit yang mendasari perilaku siswa dalam kehidupan sehari-harinya.

Padahal, jika berbicara pada arasy ideal, pedoman kurikulum PAI di sekolah sudah sangat lengkap meliputi seluruh unsur domain peserta didik, baik dari kognitif, afektif maupun psikomotorik. Bahwa pendidikan agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia. Akhlak mulia yang dimaksud mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama itu sendiri. Sedangkan peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.

Namun dalam kenyataannya, adakah semua hal seperti yang tertuang dalam pedoman kurikulum itu telah terpenuhi? Bukankah masih ada bagian ruang lingkup, fungsi dan pendekatan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang belum dapat diterapkan oleh para praktisi pendidikan dan guru agama pada umumnya. Bukti yang paling kongkrit dari analisa itu adalah produk pendidikan itu sendiri. Bahwa setelah para peserta didik digembleng pendidikan agama dalam jangka sekian waktu di lembaga sekolah mulai SD hingga SMA, adakah jaminan bahwa nilai-nilai luhur itu telah tertanam dan melekat dalam jiwa peserta didik yang akan memengaruhi segala perilaku sehari-hari dalam kehidupan individual, maupun sosial kemasyarakatan?

Sebetulnya, banyak pendekatan pembelajaran pendidikan agama yang bisa dilakukan tidak hanya oleh guru agama, tapi semua guru di sekolah pada umumnya. Yang terpenting sesungguhnya para guru tidak bertindak sebagai tukang khutbah yang menjejali murid-muridnya dengan berbagai pengetahuan agama tanpa upaya merefleksikannya dalam kehidupan nyata. Tentang keimanan misalnya, yang terutama bukan informasi tentang adanya Tuhan, namun bagaimana seorang guru bisa memberikan peluang seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengembangkan pemahaman adanya Tuhan sebagai sumber kehidupan melalui media-media yang ada di sekelilingnya.

Hal yang sama bisa diterapkan pada persoalan budi pekerti atau akhlak mulia. Guru tak perlu menjelaskan apa dan bagaimana budi pekerti. Akan lebih mengena jika guru melakukan pembiasaan dengan terus memantau segala hal terkait perilaku peserta didiknya. Pada tahap ini, keteladananlah yang terpenting. Artinya, sebelum berbicara akhlak mulia, guru harus memosisikan dirinya sebagai figur yang patut menjadi teladan bagi anak didiknya.

Terkait dengan pendidikan agama ini, menarik untuk mendengarkan penuturan Emha Ainun Nadjib (2001). Menurutnya, dalam kehidupan ini manusia boleh menyandang predikat budaya apapun dalam kehidupan. Namun yang terpenting adalah bagaimana manusia bisa lulus dengan tetap menjadi manusia. Kurikulum dasar pendidikan agama menurutnya hanya ada dua, ialah ketakjuban dan tanggung jawab kepada Allah SWT. Sesempat-sempatnya seorang guru, orang tua, atau siapapun yang terlibat dalam pendidikan anak (terutama tingkat dasar) menumbuh-kembangkan dua potensialitas rohaniah dan intelektual tersebut. Setiap kali berkomunikasi dengan peserta didik, diusahakan agar mengarahkannya pada dua hal itu. Siswa melihat air, diajak menemukan asal muasal dan manfaat air, sehingga ia takjub kepada Allah. Siswa melihat pagi hari, matahari bersinar, embun yang jatuh, daun tertiup angin, cacing menembus bumi, menatap, mendengar, dan mengalami apapun saja dalam kehidupan selalu diajak mencenderungkannya pada kesadaran ketuhanan.

Pada titik yang sama, siswa juga dilatih bertanggung jawab. Artinya, bahwa segala yang tersebar di alam semesta ini adalah milikNya semata. Yang harus dilakukan guru (terutama guru agama) adalah membangun kesadaran pada jiwa peserta didik, bahwa ia tak berhak menentukan apa yang harus dan tak boleh dilakukan. Satu-satunya jalan adalah mendengarkan kata si Pemilik Kehidupan. Maka tak ada kemungkinan lain bagi mereka selain harus taat kepada-Nya. Insya Allah, jika kedua hal itu telah tertanam dalam sanubari siswa sejak dini, kelak ketika ia melakukan apapun saja dalam kehidupan, semata-mata sedang menjalankan kegembiraan bertanggung jawab pada pencipta-Nya. Bukan lantaran taat pada kita, atau takut pada polisi atau negara.

Alhasil, memang tidak gampang untuk menjalankan semua itu. Namun setidaknya, jika ada upaya yang sungguh-sungguh dan serius untuk melakukankannya, sangat tidak tertutup kemungkinan bahwa ke depan, siswa tidak hanya sedang belajar agama selama di sekolah. Mereka bahkan telah belajar beragama dengan benar. Sehingga ketika suatu hari nanti harus betul-betul berkiprah dalam dunia nyata, ia akan berusaha menjalankan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan sehari-harinya sesuai dengan pelajaran agama yang pernah diperolehnya selama di sekolah. Wallahua’lam bisshawab (*)
*) Ditulis oleh Em. Syuhada, Guru PAI SDN Talunrejo III Bluluk Lamongan

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayahNYA yang telah dilimpahkan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan proposal ini dengan baik.
Penyusunan proposal ini dimaksudkan untuk menyampaikan gambaran pelaksanaan Diklat Peningkatan Mutu dan Pengembangan profesi Guru Pendidikan Agama Islam Tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Lamongan, guna peningkatan kompetensi Guru PAI sehingga mempunyai kemampuan dalam menghadapi era globalisasi dan sebagai pedoman dasar pertimbangan dan kewenangan serta kelayakan untuk menerima tunjangan jabatan tersebut pada periode yang akan datang
Kami yakin tugas-tugas yang dapat kami jalankan bisa terlaksana atas bantuan dan dukungan dari semua pihak, oleh karena itu ucapan terimakasih yang sebesar besarnya kami sampaikan kepada yang terhormat :
1.        Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan
2.        Bapak Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lamongan
3.        Bapak Kepala Bidang TK/SD Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan
4.        Bapak Kepala Seksi PAIS Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lamongan
5.        Semua pihak yang telah membantu kelancaran pelaksanaan diklat ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kami menyadari sepenuhnya atas kekurangan yang ada, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak. Akhirnya kami berharap semoga proposal yang sederhana ini dapat dipergunakan untuk dasar pelaksanaan diklat yang kami selenggarakan.



Lamongan, 20 September 2014

      Panitia





DIKLAT PENINGKATAN MUTU DAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TINGKAT SEKOLAH DASAR KABUPATEN LAMONGAN
TAHUN 2014

A.           LATAR BELAKANG
Sumber daya manusia yang berkualitas di era globalisasi dalam menangani pendidikan sangat diperlukan. Pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia merupakan persyaratan mutlak yang harus dipenuhi untuk keberhasilan setiap kegiatan. Pada kemampuan sumber daya manusia yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah dan kegiatan belajar megajar oleh guru, komite sekolah dan tokoh masyarakat serta pejabat yang terkait dengan bidang pendidikan utamanya pengetahuan tekhnologi dan akhlaqul karimah.
Dalam konteks otonomi daerah, pemerintah daerah berwenang mengatur dan mengurus pemerintahan serta kepentingan masyarakat. Pembangunan di bidang pendidikan dengan sendirinya menjadi beban pemerintah daerah untuk melaksanakan dan mencerdaskan masyarakat, guru pendidikan agama juga mengambil peran yang sangat penting didalam mendidik, mencetak anak didik yang cerdas, berakhlaqul karimah, beriman dan taqwa pada Allah SWT.
Dalam memperlancar kegiatan pendidikan dan pelatihan kompetensi guru pendidikan agama islam sekolah dasar negeri, maka mohon mengelola dana sertifikasi, agar dapat disalurkan dan dimanfaatkan secara efektif dan efisien, sehingga dapat meningkatkan gairah kerja yang optimal dan penuh prestasi serta dedikasi yang tinggi.
B.            NAMA KEGIATAN
Kegiatan ini bernama :
“Diklat Peningkatan Mutu dan Pengembangan Profesi Guru Pendidikan Agama Islam Tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Lamongan Tahun 2014”
C.           TUJUAN
Kegiatan Diklat Peningkatan Mutu dan Pengembangan profesi Guru Pendidikan Agama Islam Tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Lamongan bertujuan :
1.      Meningkatkan penguasaan kebijakan umum Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan.
2.      Meningkatkan penguasaan kebijakan Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama Kabupaten Lamongan.
3.      Meningkatkan kemampuan GPAI menyampaikan pembelajaran dan pembimbingan pada peserta didik.
4.      Meningkatkan kemampuan GPAI menguasai Bahan ajar Kurikulum 2013.
5.      Penguasaan Penilaian Kinerja Guru dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan.
D.           SASARAN
Sasaran Diklat Peningkatan Mutu dan Pengembangan Profesi Guru Pendidikan Agama Islam Tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Lamongan adalah Guru Pendidikan Agama Islam SD Kabupaten Lamongan.
E.            MATERI KEGIATAN
1.      Kebijakan umum Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan.
2.      Kebijakan umum Kementrian Agama Kabupaten Lamongan.
3.      Pengarahan dan pemantapan pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
4.      Kurikulum 2013.
5.      Pengembangan profesi GPAI.
6.      Peningkatan mutu bidang metode pembelajaran.
F.            WAKTU PELAKSANAAN DAN TEMPAT
Diklat Peningkatan Mutu dan Pengembangan Profesi Guru Pendidikan Agama Islam Tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Lamongan dilaksanakan pada hari selasa s.d sabtu tanggal 14 s.d. 18 Oktober 2014 bertempat di Hotel Mustika Tuban.
G.           PENYAJI MATERI
1.      Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan.
2.      Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Lamongan.
3.      Kasi Mapenda Kementrian Agama Kabupaten Lamongan.
4.      Miftah Sirojudin, M.Pd.I.
5.      Drs, Pudjianto, M.Pd.
6.      Hj, Asmawatie Rosyidah, M.Pd.
H.           HASIL YANG DIHARAPKAN
Hasil yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah :
1.      Meningkatkan penguasaan kebijakan umum Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan.
2.      Meningkatkan penguasaan kebijakan umum Kementrian Agama Kabupaten Lamongan.
3.      Meningkatkan kemampuan wawasan Pendidikan Agama Islam bagi GPAI SD.
4.      Meningkatkan kemampuan GPAI SD menguasai bahan ajar Kurikulum tahun 2013.
5.      Meningkatkan citra Pendidikan Agama Islam pada Sekolah.
6.      Meningkatkan pemahaman tentang Penilaian Kinerja Guru dan Pengembangan Keprofesian GPAI SD.





I.              SUSUNAN PANITIA DAN JADWAL KEGIATAN
Susunan panitia dan jadwal kegiatan Diklat Peningkatan Mutu dan Pengembangan Profesi Guru Pendidikan Agama Islam Tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Lamongan terlampir.
J.             RENCANA ANGGARAN
Rencana anggaran Diklat Peningkatan Mutu dan Pengembangan Profesi Guru Pendidikan Agama Islam Tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Lamongan adalah swadaya dari GPAI SD Kabupaten Lamongan terlampir.
K.           PENUTUP
Demikian proposal ini kami buat, dengan harapan semoga bias dibuat pertimbangan dalam memberikan ijin untuk pelaksanaannya.


 SUSUNAN PANITIA
DIKLAT PENINGKATAN MUTU DAN PENGEMBANGAN PROFESI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
TINGKAT SEKOLAH DASAR KABUPATEN LAMONGAN

NO
JABATAN DALAM KEPANITIAAN
NAMA
JABATAN DINAS
1.
Penanggung Jawab
Drs, Abd Karim Amrulloh
Ketua KKG PAI Lamongan
2.
Ketua
Drs, H. Munawir M, M.Pd.
Ketua KKG Karangbinangun
3.
Wakil Ketua
Dhuha, S.Ag.
GPAI Kec. Lamongan
4.
Sekretaris
Abdulloh Musyafak, S.Ag.
Sekretaris KKG
5.
Wakil Sekretaris
Ahmad Rizanu Alami, S.Pd.I.
GPAI Kec. Pucuk
6.
Bendahara
H. M Zainuddin, S.Ag.
GPAI Kec. Tikung
7.
Wakil Bendahara
H. Abd Wahab, S.Pd.I.
GPAI Kec. Lamongan
8.
Seksi Materi
-        H. Muhammadu, M.Ag.
-        H. Ali Afandi
GPAI Kec. Sekaran
GPAI Kec. Glagah
9.
Seksi Acara dan Moderator
-        Drs, Ibnu Sudirman
-        Moh Hamim, S.Ag.
GPAI Kec. Paciran
GPAI Kec. Kalitengah
10.
Seksi Akomodasi
-        H. Ach Afandi
-        Nuris Zahro, S.Pd.I.
GPAI Kec. Matup
GPAI Kec. Paciran
11.
Seksi Konsumsi
-        Abd. Sukatno, S.Pd.I.
-        Liestyo Diah Rahayu,S.Pd.I
GPAI Kec. Sarirejo
GPAI Kec. Lamongan
12.
Seksi Dekorasi dan Dokumentasi
-        Nur Shodiq,  S.Ag, MM.
GPAI Kec. Lamongan

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget